Friday, December 29, 2017
Jadi Begini Cara Bikin Film Layar Lebar...
Dan yang namanya jodoh ya nggak kemana.
Bermulai dari waktu bulan ramadhan, bulan ramadhan tahun ini bisa dibilang sangat turning point di hidup gue karena beda dengan sebelum-sebelumnya, tahun ini bener-bener tahun tobat gue lah istilahnya dari yang dulu amburadul kayak gimana. Banyak malam-malam gue habiskan untuk berdoa, apa lagi bulan itu gue juga lagi dihadapi ujian yang cukup bikin gue mumet sampe bisa bikin nangis waktu sholat. Pada bulan suci lah itu gue menyerahkan semuanya ke Allah SWT. Sabar aja karena gue percaya janji Allah. Dan lo harus juga.
Tibalah di penghujung ramadhan. Waktu tarawih, memang sempat di umumin kalau bakal ada talk show film 212 The Power of Love. Gue yang memang lagi nyari film yang islami, ya dateng dong ke acara itu. Cuma untuk nonton, gak ada niatan untuk ikutan. Akhirnya datanglah Mas Jastis, Bang Oji dan Ust. Erik Yusuf. Waktu itu gue nggak keliatan banget mukanya, soalnya shaf perempuan kan di belakang. Mereka memperkenalkan diri awalnya, bagus deh soalnya gue juga nggak tau mereka siapa. Kecuali Bang Oji, gue sempet nonton filmnya yang Mengejar Matahari, dan disitu dia serem haha. Mas Jastis kenalin dirinya, ternyata dia jagoannya film doku, pantesan gue nggak tau haha. Dan dia bilang, kalau selama ini dia main di doku karena takut main di fiksi yang tanggung jawab moralnya besar. Bikin film islami juga sekarang harus hati-hati, itu film tulus apa nyari cuan? Dan dengan penjelas Mas Jastis itu lah yang membuat gue tergugah, karena apa yang dia bicarakan, persis seperti apa yang selama ini gue pikirkan. Kita satu visi.
Itu yang membuat gue pengen ikutan. Tapi disitu gue sadar diri, gue masih bocah, ya kali bisa ikutan film gede gitu. Alhasil gue langsung pulang selepas acara. Padahal biasanya kalo acara gini gue bakal nyari orangnya dan minta nomer telefonnya.
Oya, mereka juga minta sumbangan dana karena film ini adalah film crowd funding atau dalam masalah ini, waqaf. Ya memang membuat film itu tidak murah. Selain doa, dukungan seperti ini yang akan sangat membantu. Tapi aku bisa apa untuk berdonasi...
Untuk beberapa waktu, gue meninggalkan ide itu.
Tapi gue berpikir, kalau aku tidak bisa berdonasi dalam bentuk uang, mungkin aku bisa berdonasi dalam bentuk tenagaku.
Dan akhirnya, tanggal 5 Juli, sehari sebelum syuting film pendek yang gue produserin. Dengan sok taunya, gue kontak Mas Jastis langsung. Iya gue nggak dapet nomer telefonnya. Tapi jaman sekarang udah bukan nomer HP atau email lagi. Tapi DM INSTAGRAM.
Ya, gue nge dm mas jastis. Untung ga di protect.
Dalam satu pesan itu, gue menjelaskan tentang kesamaan visi misi kita, dan keinginan gue untuk bisa ikut membantu mereka.
Itu juga nggak langsung di bales. Malah si doi update timeline tapi ga bales dm. Akhirnya gue comment aja di postingannya untuk ngecek DM gue, eh beneran di cek lho haha.
Akhirnya di bales dan minta dikirim CV. Terus udah. Lama ga dapet balesan. Dan tiba-tiba...
Tanggal 31 Juli, di suruh dateng ke kantornya jam 12.00 dan interview.
Dan itu situasinya gue baru bangun tidur abis berenang pagi-pagi. Oh itu juga baru banget mulai libur semester 2 :')
Reaksi pas dapet DM gitu gue langsung kaget dan excited banget tentunya. Tapi nggak mungkin banget waktu itu untuk gue bisa kesana. Akhirnya gue ngabarin dan minta di re-schedule.
Janjian besoknya, tapi pas udah otw doi bilang ternyata mereka lagi pergi dan di kantor gada orang. Untung masih di Cibubur.
Re-schedule lagi. Tapi nggak dibales-bales. Disitu gue agak lose hope. Dan akhirnya gue bilang ke dia, nanti kalo ga sibuk aja ketemu gue. Eh ternyata dia gabales-bales karena dia sibuk. Terus akhirnya jadi deh ketemuan siang itu. Dengan ditemani mama, gue menuju Warna Pictures.
Pas pertama kali dateng gue nervous bgt dan bener-bener jaga image. (Pasti beda banget sama sekarang ya HAHA) Malu bgt inget-inget lagiiii haha. Tapi ya pokoknya mulai disitu lah gue pertama kali dipanggil Puri. Gue nggak enak mau ngoreksi. Jadi gue iya-iyain aja walaupun belom ngerasa terlalu familiar. Ya mungkin ini bisa jadi "citra" gue yang baru.
Yang gue inget adalah waktu gue ditanya,
"Puri mau bantu kita untuk apa nih? Magang buat kampus?"
"Eh, nggak, pengen aja ikutan..."
"Emang yang kamu incer apa?"
"Eh, itu, em, lingkungannya... Karena saya ingin bertemu dengan orang-orang yang satu visi dengan saya."
"Oh oke. Kita syuting di Ciamis ya seminggu, berangkat hari Minggu."
"Hmm oke... Aku ijin mama dulu ya."
"Oke. Kalo mama ga ngijinin kita juga ga ngijinin ya."
"Oke!"
Dan gue pulang dari kantor mereka. Mama izinin kalo Papa izinin. Gue nervous selama perjalanan pulang. Karena tiba-tiba aja gue diajak pergi keluar kota selama seminggu sama orang-orang yang bahkan gue nggak kenal. Gue juga agak takut sih. Tapi there's something that made me feel safe somehow.
Dan alhamdulillahnyaaa Papa dengan santainya ngizinin.
Dan disitulah dimulainya pengalaman syuting layar lebar ku yang pertama!
:)
29/12/2017
Wednesday, November 8, 2017
NUTS! (Walnut Story)
Cerita Nuts gue dapat ketika gue baru bangun tidur subuh-subuh, entah bagaimana tiba-tiba terngiang di otak gue "Seorang remaja SMA yang mau cepat-cepat lulus tapi ternyata dia belum siap dan malah rindu SMA." Inspirasi cerita ini juga gue dapat karena banyak temen sekelas yang jenuh belajar dan bilang "Gasabar kuliah, bisa bebas!" yang hampir gue dengar setiap hari. Gue pun, merasa seperti itu.
Tapi gue tau, kita selamanya akan merasa seperti itu, apalagi kalau kita tidak bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Selalu menginginkan yang nanti.
Rio, tokoh di film ini, gue buat untuk mewakilkan semua anak SMA yang merasa seperti itu, tapi disini gue membuat bagaimana kalau keinginan dia terwujud? Tiba-tiba ada seorang "dukun" yang menawarkan untuk mengabulkan permintaannya. Konflik-konflik dia di masa kuliah gue buat dengan ke-sok-tahuan gue, karena toh di masa itu, gue gatau apa-apa tentang kuliah. Yang gue tau cuma dosen pasti tidak akan sepeduli dengan kita seperti guru, dan pergaulannya pun akan lebih "bebas". Pada akhirnya Rio merasa dia belum siap untuk kehidupan kuliah, dan ia berharap ia bisa menikmati waktunya dulu. Tidak terburu-buru ingin lulus. Tapi, karena dia sangat ingin menginginkannya... sampe kebawa mimpi. Ternyata, itu semua hanya mimpi, dan dia bangun dan makin menghargai waktunya sekarang. (Plot twist endingnya ketika ternyata si dukun ternyata ada, jadi apakah dia benar-benar hanya mimpi? Atau bukan?)
Anehnya, ketika gue sekarang sudah kuliah. Apa yang terjadi pada Rio, gue merasakannya. Sedihnya, ini bukan mimpi dan bukan ulah penyihir. Tapi, ada sepenggal dialog gue buat dulu, untuk gue sekarang. Yaitu: "How many times you missed them, or wanting to go back, its never going to happen. Life goes on, that's how it works."
Dan itu membuat gue sadar kembali.
Film ini gue dedikasikan untuk kalian yang suka merasa "pengen cepet-cepet" supaya kita selalu bersyukur setiap harinya dan tidak terburu-buru. Yang kita punya adalah masa sekarang, bukan masa lalu ataupun masa depan.
Film ini menjadi film yang ternyata sangat berarti buat gue. Bisa dibilang gue merasa puas. Dan gue pengen lagi membuat film yang bisa menyentil diri gue sendiri.
Dan film ini lahir tanpa disengaja.
Cibubur,
9 November 2017
Rindu untuk Berkarya.
Misteri Penghapus Sapi, Hadiah untuk Sarah, Nuts (Walnut Story), bahkan dokumenter Kulanta Damarudira.
Awalnya aku tidak mau menonton mereka kembali, karena aku tidak mau terlalu bangga dengan yang aku buat. Tapi rasanya aku tidak bisa menemukan motivasiku kembali bukan karena mereka.
Aku melihat kemampuan ku yang tersembunyi ketika aku menontonnya lagi, kemampuan yang tak kusangka ada. Bahkan sekarang ketika aku sudah menjadi mahasiswa film, aku kagum kepadaku sendiri untuk bisa men-direct seperti itu, padahal aku belum tahu apa-apa tentang film.
Tapi kenapa sekarang, aku malah merasa tidak mampu?
Sekarang aku sudah semester 3, banyak yang aku pelajari tentang bagaimana cara membuat film yang baik dan benar. Dari skrip sampai editing.
Dulu aku melakukannya dengan sangat amatir, tapi aku puas dengan hasilnya. Apakah itu salah?
Aku rindu ketika aku bisa saja membuat film dari skrip yang tidak berbentuk skrip,
Aku rindu ketika aku bisa langsung menyalakan kamera dan mengatur aktorku tanpa harus menyiapkan apa-apa,
Aku rindu ketika aku bisa membuat cerita apa saja yang aku mau,
Aku rindu bisa berkarya dengan bebas.
Apakah ilmu-ilmu yang kudapat malah membatasi ku dalam berkarya?
Dan hanya membuatku merasa "Oh bikin film kayak gini ya ternyata, susah juga..."
Padahal dulu "Bikin film cuma seminggu gampang euy!"
AKU RINDU.
AKU INGIN BERKARYA.
SIAPA KAMU (ATURAN-ATURAN) UNTUK MELARANG KU?
YANG AKU MAU HANYA MEMBUAT FILM DENGAN CERITA YANG BAGUS
AKU TIDAK PERLU KAMERA CANGGIH
AKU TIDAK PERLU SKRIP YANG DETAIL
AKU TIDAK PERLU PROPERTI YANG MEWAH
AKU HANYA INGIN BERCERITA!
AKU HANYA INGIN MELIHAT KEMAMPUANKU YANG TERSEMBUNYI TANPA PERLU AKU PAKSA DIA UNTUK MUNCUL
YA MUNGKIN KAMU BISA BILANG AKU BODOH,
MUNGKIN KAMU BISA BILANG AKU MALAS,
TAPI AKU SENANG MEMBUAT FILM BIASA-BIASA SAJA ASALKAN PESANKU TERSAMPAIKAN.
YANG AKU MAU ADALAH: CREW KECIL YANG INTIM DAN CAST YANG TIDAK MANJA.
AKU MASIH MAU MEMBUAT FILM DENGAN BAHAGIA.
AKU TIDAK MAU MEMBUAT FILM YANG BAGUS TAPI TIMNYA TIDAK AKUR.
LAGIAN, TIDAK ADA TOLAK UKUR SENDIRI UNTUK FILM BAGUS.
AKU TIDAK MAU MEMBATASI KE KREATIFITAS-AN KU.
AKU INGIN TERUS BERKARYAAAA!!!!!!!!!!!!!
Sunday, June 11, 2017
"Boleh Bernostalgia, Asal Jangan Terjebak."
Tak ada salahnya dalam mengenang-ngenang kenangan lama,
Karena memang itu kan gunanya kenangan?
Untuk diingat-ingat lagi.
Tapi bukan untuk dipertahankan.
Mungkin karena suasana baru ini, yang membuatku mengingatmu lagi.
Mengingat segala hal kecil yang terjadi.
Dan lupa dengan kenapa aku bisa menghancurkannya.
Lupa.
Aku lupa kenapa ini jadi begini.
Dari mana ini berawal?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Entah lah,
Tak ada yang bisa menebak,
kecuali Dia.
Karena toh semuanya sudah memang diharuskan begitu.
Tidak ada yang namanya kebetulan.
Aku memang ditakdirkan menghancurkan ini.
Kita sudah direncanakan untuk berpisah.
Tak ada gunanya mendengar lagu lama,
Liriknya sudah tak berarti sama.
Mulailah sesuatu yang baru.
Untuk dikenang lagi kemudian hari.
Ciptakan banyak kenangan indah.
Jangan cuma satu.
ARSP
11/6/17
Thursday, May 25, 2017
Puasa sebentar lagi~
Tak terasa sebentar lagi kita akan bertemu,
Ramadhan ke 19 ku,
Sulit diungkapkan betapa aku merindukanmu.
Merindukan kebersamaan yang kau berikan,
Bersama-sama di meja makan menunggu bedug,
Sambil tak sabar mencium harum kolak pisang buatan ibu.
Namun, puasa ini akan sedikit berbeda,
Puasa pertamaku sebagai anak kuliahan, di lingkungan yang baru.
Puasa pertama tanpa saudara kembarku.
Puasa pertama tanpa embah putriku.
Bulan yang sangat sayang bila disia-siakan begitu saja,
Bulan untuk memperingati turunnya buku yang sangat suci nan sakti,
Bulan untuk merayakan lahirnya agamaku.
Bulan dimana setan-setan digembok erat-erat di balik jeruji!
Aku ingat, ramadan tahun lalu waktu aku pertama kali diberi pikiran "Apa gue berhijab aja ya?" setelah menonton dokumenter di Netflix tentang pertumbuhan seorang anak laki-laki yang punya nafsu belaka ketika melihat cewe dengan baju terbuka. Padahal tak pernah seumur hidup aku bakal mengira aku akan berpikiran seperti itu.
Aku ingat, ramadan tahun lalu aku menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk membuat sebuah film pendek ke tiga ku.
Aku ingat, ramadan tahun lalu aku harus menjaga keponakanku yang berumur 10 tahun, dan aku mengajaknya menonton film horor di bioskop.
Apakah yang akan kau berikan padaku di ramadan tahun ini?
Aku tak sabar menunggunya.
Sampai bertemu sebentar lagi!
Insya Allah.
ARSP
10:43 PM
Sunday, May 7, 2017
Last Words.
Who'd be the last person you talk?
What'd be the last thing you do?
What/who would be the last thing you thinking of?
What'd your last food be?
What'd your last song be?
What'd be your last thing to watch?
What would you feel? Relieved or scared?
Are you ready to face your own death?
Have you properly say goodbye to those you loved?
Have you apologizes to those you hurt?
And forgive to those hurt you?
You knew it all along
But you just pretend like it was nothing.
Only this time its not for money.
Friday, May 5, 2017
Where You'd Wanna Go?
I think everybody's life is miserable.
People choose what they want us to see
They choose the perfect word, the perfect picture
I once heard a saying, "If you dont want problem in your life, then don't live."
(But in the non suicidal way)
Problem never rest, they will haunt you for life
And we can never run and hide.
Is it possible for a person to be happy all the time?
No.
Is it possible for a person to look happy all the time?
Yes.
I think the more you pretend, the one who gets fooled is yourself.
Lol especially if you have emotional problem,
good luck with that.
5/5/17
Ps: Relax, its not you, its me.