Saturday, March 19, 2016

Age of Adaline

Watching movie with my mom on a saturday night, my mom doesn't like the movie from the very first start and watched it only for once in awhile, i watched it the whole time expecting my mom opinion would be wrong, but throughout the story, it only has a few conflicts aside from her to stop aging.

Adeline met his boyfriend's parents and turns out the dad (Harrison Ford/Han Solo) was her ex a couple of decades ago. Han seems like he still loves her but he has been married for 40 years with his wife so it may seems impossible for him to still loves her now. Evenso, Han still approaching her. Finally it reveals that Adaline is the same person she has been for the past 70 years. When Han found out, she was terrified and ran away again just like she did with him. Then Ellis go after her but she got strucked by lightning, again.

Eventually Adaline decided to tell Ellis the truth. And he accept it just as it is.

One year later, Adaline and Ellis and Adaline's daughter (whom look 40 years older than her) lived together, preparing to go to an unmentioned event. And when she passed the mirror, she saw one grey hair on her head. And she described it as "Perfect."

The movie ends and my mom wanted to say something but i thought she would just laughed at it, but then she told me the moral of the story:

"Beauty is not everything, young appearance meant nothing if you couldn't grow old without the ones you love."

And that was quite cool mom and I haven't got think of that. Thank you mom, i misjudged you.

A.R.S.P
March 19th 2016

Thursday, March 17, 2016

18 tahun.

Berawal dari hari dimana gue marah kepada cowok gue yang telah menjengkelkan dari sehari sebelumnya gara-gara bales lama terus dan bahkan sampe ketiduran PADAHAL UDAH JANJIAN MAU TELFONAN.

Awalnya, gue merasa, ah, doi paling sengaja, biar bikin gue marah terus nanti di suprisein gitu. Gue gamau marah ah biar kesannya gue ga ketipu, hah mampus lo siapa sekarang yang dikerjain!

(pada kemudian hari ternyata kenyataannya dia memang tidak sengaja bikin gue marah, emang udah ngeselin dari sananya.)

Di sekolahpun dia telat dateng, gue pura-pura tidak peduli padahal gue liatin terus pintu kelas sampe dia dateng. Namun, seusai upacara pun, dia tak kunjung ada.

Gue berusaha senormal mungkin dihadapan teman-teman, dan walaupun hari itu di sebelah gusti kosong, gue tetap memilih untuk duduk bersamanya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan dia muncul, gue sok memalingkan wajah, terus dia langsung menyalami gue dan mengucapkan selamat ulang tahun dan sebagainya, gue bingung harus gimana, karena gue mengharap lebih dia sebagai cowok gue.

Dia minta maaf karena dia ketiduran semalem, "Aku minta maaf."
Gue dengan sok cuma jawab, "Minta maaf kenapa?"
"Karena gangucapin kamu secepatnya dan gak nelpon kamu padahal udah janji."
Gue yang tadinya pengen gak marah, mendengar dia dengan perlahan menyebutkan satu per satu kesalahannya, malah bikin gue ingat kembali kenapa gue harus marah. Alhasil, gue langsung kembali bete dan nyuekin dia seharian, padahal kita udah duduk sebelahan.

Di hari ulang tahun gue, yang harusnya gue habiskan dengan bahagia, malah jadi sebaliknya. Gue coba untuk fake a smile seharian dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, gue juga memikirkan teman-teman laknat gue yang biasa banget di hadapan gue. Bodo ah, gue gamau pulang cepet-cepet ke rumah biar gak nungguin apa-apa. batin gue (padahal masih ngarepin di suprisein)

Gue juga bilang ke teman-teman kalo gue mau bimbel, tetapi lucunya semua orang yang gue tanya bimbel apa nggak menjawab dengan jawaban yang sama: "Nggak ah ngapain bimbel, nggak guna juga."

Curiga akhirnya merajai nalar gue, tapi tetep, gue tidak berharap apa-apa.

Ketika sudah waktunya untuk pulang, tiba-tiba Mr Pur, wali kelas gue, memarahi gue karena sepatu gue yang sudah kumel, karena setiap hari juga dimarahi, gue ga merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, tiba-tiba pintu terbuka, kue datang di bawa ucup sambil berteriak, "Happy birthday, Iyo!" padahal adanya gue disitu.

Ternyata Mr Pur sebenernya pengen bikin kejutan buat gue tapi gagal karena kuenya terlalu cepat datang. Dan gue tau dalang dari semua ini hanyalah satu orang: bukan mudi, atau gusti, atau teman-teman sampis gue yang lain, tapi orang itu adalah, nyokap gue.

Entah kenapa padahal gue udah 18 tahun, tapi mama masih pengen ngirimin gue kue ke sekolah. Mah, aku 18 tahun, bukan 18 bulan.

Lalu iyopun datang berkumpul denganku, teman-teman bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Gue senyum-senyum dan hanya mengikuti acara. Berdoa, tiup lilin, potong kue, makan kue, beresin kue, ekskresikan kue dan pulang.

Akhirnya tiba saatnya berpisah dengan teman-teman, gue menelpon mama apakah supir gue sudah menjemput apa belum, lalu mudi mendengar (re: menguping) dan dia bilang, "Pulang sama aku aja"

Karena keadaan hati gue yang masih jengkel kepadanya, gue menolak, "nggak usah udah ada pak agus"

"Tapi aku mau kasih hadiah dulu buat kamu"

"Yaudah besok aja"

"Gabisa harus hari ini"

"Ya gimana aku udah ditungguin"

"Plis ca minggu ini sekali aja deh aku nganter kamu" <--seakan gue setiap hari baper sama dia gamau diajak pulang

Lalu dia akhirnya bilang, "Aku yang bilang deh ke mama kalo kamu pulang sama aku"

Dan gue berhasil diluluhkannya.

Akhirnya gue duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Gue ingin melupakan kesalahan dia dan ingin bahagia saja, di mobil juga gue coba ngomongin ke dia, tapi dia dengan ngeselin tingkat overnya cuekin gue dan main hape.

"EHHH KENAPA SIH KOK MALAH MAIN HAPEE!!"
"Iyaiya ini grup rame banget"
"Grup apa?"
"Grup perpustakaan"
"Geng perpustakaan yang isinya temen-temen kamu waktu sd yang culun jadi nongkrongnya di perpus terus?"
"Iya, solid kan!"
"Hmm... Iya solid juga ya..."

Setelah beberapa lama keliling-keliling, mama menelpon, "Ca kamu dimana?" "Iya ini lagi keliling di jalan" "Cepet pulang jangan lama-lama!" "Iyaiyaa" dan akhirnya gue gak sempet ngomong ke mudi dan kita menuju rumah gue.

Gue lalu merenung, sebentar lagi gue sampai rumah dan hari ulang tahun gue hanya sekedar ini saja, mudi hanya akan memberi gue hadiah dan lalu selesai.

Sesampainya di rumah, entah kenapa mudi nggak muter balik di tempat biasanya, lalu dia parkirkan mobil, dan bilang "Yang, kamu bisa ambilin gunting gak?" gue yang bingung dan udah lelah dengan kelakuan dia yang minta di tabok setiap dia buka mulut, hanya bisa membalas, "Gamau. Ambil aja sendiri."

"Heeh kok gitu!"
"Lagian. Kenapa gak dari kemaren2 guntingnya."
"Ayo dong sayang, bentar aja"
"Hhhh yaudah yaudah"
Lalu gue turun dari mobil, dan dia ikutan. Gue bingung, kan gue doang yang disuruh ambil gunting ngapa dia ngikut.

.
.
.

Lalu ketika sudah sampai di garasi rumah, terdengar suara bising yang tak asing.
Suara teriakan teman-teman sampis tercinta.
Gue hanya bisa memasang muka males di depan mudi, dan dia menyuruh gue buka pintu.
Gue pun mendorong pintu, dan apa yang ada di depan gue, sungguh absurd.

Tiba-tiba ada seorang lanang dan ochi, berlari melintas ruang tamu gue. Lalu ada gusti di balik tembok, sambil memegang balon air bersiap melempar ke gue namun berubah pikiran di tengah jalan dan kembali mengumpat lagi. Wtf. Sejenak, gue merasa rumah gue telah berubah menjadi sekolah.

Dhana keluar dan langsung teriak, "serang icil!!!"
Tiba-tiba semua bermunculan satu persatu dengan balon air mengejar gue keluar rumah. Mereka menimpuk gue dan berharap balon itu untuk pecah dan membasahi tubuh gue, namun kenyataannya, balon itu tidak pecah sama sekali dan hanya menghantam badan gue dengan massa yang berat itu. Bahkan sampai lingga langsung mengarah ke kepala gue, tapi yang terjadi hanyalah gue meringis kesakitan karena merasa telah tertimpuk sama bola sepak beneran.

Ochi langsung berpikir untuk rencana selanjutnya, membasahi gue dengan selang karena ternyata balon berisi air tidak berguna apa-apa.

Dalam keadaan chaos seperti itu, gue memperhatikan satu-satu, semua temen di geng gue ada. Gusti, ochi, dhana, lingga, bayu, lanang, hisyam. ya kecuali 2 orang (fikri dateng abis itu pas lagi makan-makan doang, dan celi gabisa dateng soalnya ada inten) tapi bahkan yang gue tidak harapkan untuk datang, ada.

Walaupun sehabis itu gue udah kedinginan kayak cihuahua, gue senang karena mudi telah menepati janjinya.

*flashback beberapa minggu yang lalu*

"Ayang, aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?"
"Apa yang?"
"Buat ulang tahun aku nanti... Kumpulin temen-temen kita ya? Aku kangen banget sama kita semua... Aku ngerasa kita agak merenggang akhir-akhir ini."
"Iya... Aku usahain ya."

Gue dengan sikap suudzon gue, sempet berpikir kalo mudi gabakal bisa sebenernya, tapi ternyata gue salah, untung gue salah, karena hari yang tadinya gue kira bakal bahagia tapi ternyata menyedihkan tapi akhirnya... kembali lagi jadi bahagia.

Hari di habiskan dengan kita makan bersama, yang ternyata hidangannya telah di masak oleh mama gue dan beberapa asisten lainnya, ternyata mereka bersengkongkol dengan teman-teman udah ngerencanain ini dari kemaren tanpa sepengetahuan gue.

Setelah main 1 game werewolf, dan foto-foto di tangga karena disuruh mama. Teman-teman akhirnya pulang meninggalkan rumah gue dengan perut kenyang dan capek habis banyak ketawa. Lalu sebelum mudi pulang, dia tiba-tiba menawarkan sebuah martabak. Dan gue dengan anehnya, juga langsung mau aja ditawarin.

"Hah martabak?"
"Iya, hadiah ulang tahun kamu martabak."
"Hmm yaudah mana"

Kita kembali ke mobil dia, dan ia menyuguhkan sebuah kotak putih yang tipis, emang sih keliatan kayak martabak. Tapi gue curiga, mana ada martabak setipis ini. Dan ketika gue buka...

JREEEENGGGG!!!
Ternyata isinya adalah sebuah clapper board.
Iya, clapperboard yang dipake buat sutradara kalo bikin film.
Gue emang sempet bilang ke dia ketika dia nanya gue mau apa ("Pokoknya sesuatu yang semua sutradara punya!" dan dia membalas "Apa, toa?" "...") tapi dia juga bilang kalo itu lumayan mahal dan dia sempet nanya "Kalo hadiah kamu bukan yang kamu mau, gapapa kan?" dan gue pun hanya bisa mengerti dan akan terima apapun yang dia berikan.

Tapi ternyata, dia berhasil bikin gue terkejut dengan riang lagi, gue kesenengan dan teriak-teriak pas liat itu untuk pertama kali. Yang bikin lucu ya tulisan di clapperboardnya itu, ketika dia berusaha melawak. Dan di kolom "Director" dia menulis nama gue.

Akhirnya gue memperoleh clapperboard pertama gue, yang diberikan oleh aktor pertama gue, padahal gue masih sutradara amatiran yang masih belajar juga. Tapi gue akan terus berjuang dan tidak akan mengecewakan teman-teman dan keluarga gue yang sudah memberi kepercayaannya.

Setelah berbahagia dengan si dia, akhirnya gue kembali masuk rumah dan dia pulang.

Malamnya, gue dengan keluarga gue menyantap steak gratis yang bisa diperoleh setiap kali ulang tahun. (dan ternyata ada kue lagi dateng dikasih mas-masnya sambil nyanyi happy birthday terus diliatin se-restoran)

Gue bersyukur malam itu, hari ulang tahunku ke 18, ulang tahun terakhirku di masa SMA. Gue habiskan bersama seluruh keluarga dan sahabat. Gue bahagia, dan untuk pertama kalinya, gue  tidak harus memaksa diri sendiri untuk tersenyum.

Terimakasih ya Allah, terimakasih mama, terimakasih mudi (maaf udah marah sama kamu seharian, ternyata semua kesalahan kamu terbayarkan), dan terimakasih ke 10 temanku yang lainnya.

I'll see you soon, 14th of March.

(Written in 17-18 March 2016)

Saturday, February 27, 2016

Sampai Jadi Debu

Tak ada kata terucap
Suasana hanya tertelan oleh lantunan melodi di audio mobil
Memainkan lagu yang diputar melalui telfon genggamku

Aku baru saja menemukan lagu bagus, dan aku ingin segera mengenalkannya kepadamu
Memang selera kita berbeda, sangat jarang untuk menemukan momen dimana kita bisa sama-sama menyukai 1 lagu tertentu
Tetapi dengan cara kita yang selalu ingin memberi tahu tentang dunia kita masing-masing
Sehingga pendapat menjadi tidak terlalu penting.

Aku selalu ingat dengan lagu yang kita dengar bersama
Dengan tanganmu di tanganku
Dan kepalaku dipundakmu
Memandangi lampu-lampu mobil berkelap-kelip menerangi seisi kota
Bersenandung dalam hati
Mengikuti irama suara
Semuanya mempunyai tempat khusus untuk kureka ulang
Karena semuanya tidak pernah hilang dari kepalaku...

Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Kau di sebelahku...

(oleh Banda Neira)

ARSP
Feb 27 2016

Friday, February 19, 2016

impromptu series

I dont know how this happened, there's no script or actors, it's just need a really stupid fellow friends and a camera. And I happened to have both of them at the time. (Well i always have stupid friends, but not always the camera) And this represent how our days are usually goes. I present to you, my first ever mini series: Celi The Jerk Trilogy!!


ARSP
*better leave before celi sees this and kills me*
*atleast this isnt youtube*
Feb 19 2016

Sunday, February 7, 2016

For You.

Falling in love is just a funny thing
Sometimes you could be with someone, but not really fall in love with that someone
And you could love someone that you have no idea that you're in love with
A little sign that you ignored the past month, could actually be happening in the future
When you look back, you said something in your mind like, "Hahaha, it has always been you."

This is not a post describing my life
This post I would like to dedicated to the man who sees the best in me in my worse time,
To the man who knows how to make me laugh
To the man who unfortunately have to stopped by with me first before he met the very girl that suits him really well
(who actually have appeared in my mind that he would be so much perfect together with the figure of her)

I'm so glad to see you this happy,
I'm so glad that somebody could pick you up when you fall and fix you.
Let's just cross our fingers, and hope it won't end up so bad as the previous one.

Amen.

Feb 7 2016
ARSP

Tuesday, January 5, 2016

The Past is never the Best

School starts in... 6 more hours.
The past 2 weeks off had been... Quite flashback-y
Gue kembali reuni bersama geng-geng lama gue di SMP, and i realize that we weren't that different at all from where we were back then. Nothing particularly has change.
But something new happened, when a friend from a very long past of mine came by, from my first elementary school which i left when i was 2nd grade.
It was really weird how i still remember so much stuffs from back then, we talked about other friends and how much they have change.
Being with her, made me miss my old life, when i was still a child and have no problem except when my mom didn't let me keep a colored chick that some guy sell infront of my school.
My life then was pretty amazing, i always like it then than now. And talking to her and realizing that every friends i had there still has an amazing life now, made me think, what might have been if i never left them?
What would I be now,
Or with whom will i be hang out with.
Will i have a life as cool as them.
Or make me a lot different person than i am today.
But then i remember, how sad i was as a person, even when I'm only a child. I was that type of girl who's envy of the pretty girls. I want to be friends with them, and i want to be them.
And that what made me stop thinking, and stop wishing to go back.
I'm fine as i am now, I'm not perfect i have a lot of flaws, but I'm glad to be me at this point of time. I'm surrounded by a bunch of stupid people I loved. So why would i wanna go back?
There's no point of holding on to the past, this is the future, this is now. And you got everything to control it, its your destiny.

So kid, no matter how much the past seems so wonderful to you, that's just that, and you could not have them back, instead you just gotta be loving what you have now, and fight for your future ahead.

1:03 AM
Fuuuuuuuu-!

The Worst Nightmare

What if we die tomorrow
What if our family's gone
and left you all alone
What if everything's not working out
What if everything we do is wrong
What if our do's will scared people away
What if the next journey of our lives are gonna be so much harder
What if our loved ones left us
What if things turned out to be different than we imagine
What if there's nothing we can do to make things better
What if... You die before you can make yourself proud

ARSP
11:18 PM
Last day before school starts.